Kamis, 21 April 2011
tugas SI PSI
Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun bernama Bona dan bersekolah di sebuah TK. Bona yang selalu berlarian tanpa henti, membuat berantakan seluruh mainan tanpa menggunakannya untuk bermain (hanya dilempar-lempar kemana saja), sering memukul dan menendang tanpa alasan bahkan terkadang saat memegang benda juga digunakan untuk melempar atau memukul, makan sambil berlarian dan berantakan seluruh makanannya, tidak memperhatikan jika diberitahu sesuatu, suka berteriak-teriak kasar, dan membanting benda-benda terutama jika permintaannya tidak segera dipenuhi
2. Pre Condition
Pada pendekatan ini terapis memulainya dengan raport terlebih dahulu kepada subjek agar subjek merasa nyaman untuk melakukan terapi yaitu dengan memberikan pertanyaan umum seperti menanyakan kabarnya, menanyakan perasaannya selama perjalanan ketempat terapi, identitasnya dan juga memberikan pertanyaan khusus seperti menanyakan tentang minat subjek.
3. Actor who initiate
• Orangtua
• Therapist
4. Steps
• Therapist bertanya kepada orangtua klien
• Therapist mencatat seluruh riwayat klien
• Therapist mulai melakukan program peubahan prilaku dengan klien
5. Post Condition
Berdasarkan informasi yang didapat oleh terapis maka terapis dapat menggunakan jenis terapis seperti :
Terapi bermain
Dapat ditujukan untuk meminimalkan/menghilangkan perilaku agresif, perilaku menyakiti diri sendiri, dan menghilangkan perilaku berlebihan yang tidak bermanfaat. Hal ini dapat dilakukan dengan melatihkan gerakan-gerakan tertentu kepada anak, misalnya tepuk tangan, merentangkan tangan, menyusun balok, bermain palu dan pasak, dan alat bermain yang lain. Dengan mengenalkan gerakan yang lain dan berbagai alat bermain yang dapat digunakan maka diharapkan dapat digunakan untuk mengalihkan agresivitas yang muncul, juga jika anak sering berlarian tak bertujuan.
6. Actor who get benefit
• Therapist
• Klien
• Keluarga
B. 1. Case Name : Autis
Seorang anak laki-laki bernama Kevin berusia 5 tahun. Kevin Sebelumnya ia tampak normal. Responnya pun masih normal. Jika dipanggil misalnya, ia akan menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya itu,” cara bicara Kevin yang lambat dan tidak jelas, bahkan, perilaku Kevin tampak semakin tidak seperti biasanya.
2. Pre Condition
Pada pendekatan ini terapis memulainya dengan raport terlebih dahulu kepada subjek agar subjek merasa nyaman untuk melakukan terapi yaitu dengan memberikan pertanyaan umum seperti menanyakan kabarnya, menanyakan perasaannya selama perjalanan ketempat terapi, identitasnya dan juga memberikan pertanyaan khusus seperti menanyakan tentang minat subjek.
3. Actor who initiate
• Therapist
• Orangtua
4. Steps
• Therapist bertanya kepada orangtua atau lingkungan sekitar subjek
• Therapist mencatat seluruh riwayat klien
• Therapist mulai melakukan konseling dengan memberikan terapi kepada klien
5. Post Condition
Terapi Autisme adalah penatalaksanaan anak dengan gangguan Autisme secara terstruktur dan berkesinambungan untuk mengurangi masalah perilaku dan untuk meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangan anak sesuai atau peling sedikit mendekati anan seusianya dan bersifat multi disiplin yang meliputi: (1) terapi perilaku berupa ABA (Applied Behaviour Analysis); (2) terapi biomedik (medikamentosa); (3) terapi tambahan lain yaitu, terapi wicara, terapi sensori integration, terapi musik. Adapun tujuan dari terapi Autisme adalah mengurangi masalah perilaku dan meningkatkan kemampuan belajar serta meningkatkan perkembangan anak agar sesuai atau paling sedikit mendekati anak seusianya.
6. Actor who get benefit
• Therapist
• Klien
• Keluarga
C. 1. Case name : Gangguan Anxietas menyeluruh
Seorang wanita bernama Rere berusia 19 tahun. Rere selalu merasa cemas ketika berbicara di depan orang banyak.
2. Pre Condition
Pada pendekatan ini terapis memulainya dengan raport terlebih dahulu kepada subjek agar subjek merasa nyaman untuk melakukan terapi yaitu dengan memberikan pertanyaan umum seperti menanyakan kabarnya, menanyakan perasaannya selama perjalanan ketempat terapi, identitasnya dan juga memberikan pertanyaan khusus seperti menanyakan tentang minat subjek.
3. Actor who initiate
• Therapist
• Klien
4. Steps
• Therapist bertanya kepada orang-orang di sekitar klien
• Therapist mencatat seluruh riwayat klien
• Therapist mulai melakukan konseling dengan menanyakan masalah-masalah seperti mengenai perasaannya untuk berbicara di depan satu atau dua orang sampai dengan perasaannya untuk berbicara di depan umum atau orang banyak.
• Therapist mengobservasi secara langsung hal-hal yang berkaitan seperti rasa tegang klien, was-was dll
5. Post Condition
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari subjek maka subjek dapat dibantu melalui Prosedur Desentisasi Sistematis yang didahului dengan Hierarki Kecemasan dan juga bisa menggunakan cognitive-behavioural therapy (CBT), pada CBT diberikan teknik pelatihan pernafasan atau meditasi ketika kecemasan muncul, teknik ini diberikan untuk penderita kecemasan yang disertai dengan serangan panik.
6. Actor who benefit
• Therapist
• Klien
Rabu, 06 April 2011
tugas SI psikologi (contoh kasus)
Kasus 1: anak Hiperaktif (ADHD)
1. Pendekatan
Pada pendekatan ini terapis memulainya dengan raport terlebih dahulu kepada subjek agar subjek merasa nyaman untuk melakukan terapi yaitu dengan memberikan pertanyaan umum seperti menanyakan kabarnya, menanyakan perasaannya selama perjalanan ketempat terapi, identitasnya dan juga memberikan pertanyaan khusus seperti menanyakan tentang minat subjek.
2. Menggali Informasi Subjek
Setelah melakukan pendekatan, terapis mencoba menggali informasi dari ibu subjek mengenai ketertarikannya untuk datang ketempat terapi tersebut, jika setelah ibu subjek memberikan keterangan bahwa subjek sering kali berperilaku yang selalu berlarian tanpa henti, membuat berantakan seluruh mainan tanpa menggunakannya untuk bermain (hanya dilempar-lempar kemana saja). Lalu terapis dapat memulai dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka secara mendalam mengenai perilaku anaknya itu, yang tersusun dalam pedoman wawancara, seperti menanyakan. Selain menggunakan pedoman wawancara saat menggali informasi dari subjek terapis juga menggunakan alat tulis.
3. Memilih Terapi yang tepat
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari subjek mengenai perilaku subjek yang selalu berlarian tanpa henti, membuat berantakan seluruh mainan tanpa menggunakannya untuk bermain (hanya dilempar-lempar kemana saja), sering memukul dan menendang tanpa alasan bahkan terkadang saat memegang benda juga digunakan untuk melempar atau memukul, makan sambil berlarian dan berantakan seluruh makanannya, tidak memperhatikan jika diberitahu sesuatu, suka berteriak-teriak kasar, dan membanting benda-benda terutama jika permintaannya tidak segera dipenuhi, maka subjek dapat dikategorikan bahwa ia mengalami hiperaktif (ADHD). Dimana ketika subjek berada di sekolah, subjek terlihat kesulitan mengikuti proses belajar karena dia selalu saja berlari dan sulit sekali diminta duduk di kursinya. Guru dan teman-teman lain merasa terganggu karena setiap kali Bona diminta duduk, beberapa detik kemudian sudah berlari-lari lagi keliling ruang kelas sambil mengganggu temannya atau sampai keluar kelas. Maka dalam kasus ini, subjek dapat dibantu melalui pemberian terapi bermain bagi anak ADHD, yaitu Tujuan dan target setiap sesi terapi bermain harus spesifik berdasarkan kondisi dan ketrampilan anak, dilakukan dengan bertahap, terstruktur dan konsistensi. Salah satu yang perlu diperhatikan pada anak ADHD adalah sensitivitas mereka terhadap perubahan sehingga kita harus membantu menciptakan sesuatu yang rutin untuk mereka. Dalam hal ini konsistensi yang dapat diciptakan terapis misalnya dalam hal waktu, aturan bermain, tempat, dan jumlah alat permainan. Pemilihan ini harus didasarkan pada kondisi anak dan target perilaku yang dituju.
4. Pelaksanaan Terapi
Terapis dilakukan dengan beberapa tahap, dan subjek dibantu oleh seluruh anggota keluarga, khususnya ibu subjek yang harus terus berada di samping subjek. membutuhkan ruangan yang nyaman dan tidak bising serta tempat duduk yang nyaman untuk melakukan terapi tersebut. Kemudian terapis membuat target perilaku, dan beberapa perilaku yang menjadi target dalam perubahan perilaku ini adalah:
- Harapan awal dari terapi yaitu subjek mampu membereskan mainan dan barang-barang subjek sindiri. Memasukkan pensil, penghapus, dan buku ke tas setelah digunakan. (Tidak meninggalkan pensil, penghapus, dan buku di meja belajar, meja tamu, atau di ruang lain) Mengembalikan mainan ke wadahnya setelah digunakan. (Tidak melempar-lempar mainan jika tidak digunakan, jika melempar-lempar maka harus mengambil kembali dan dikembalikan ke wadahnya.)
- Mendengarkan orang lain bicara sampai selesai, Menunggu Bapak, Ibu, pembantu, atau teman selesai ketika sedang berbicara tanpa memotong.
- Mengerjakan aktivitas sampai selesai, Menggambar sampai selesai. (Tidak berganti kertas gambar atau meninggalkannya sebelum gambar selesai dibuat.)
Karena program ini berbasis pada sistem aturan maka perilaku yang menjadi target dapat beberapa (tidak hanya satu) dengan catatan setiap target perilaku akan dibuatkan aturan yang detil dan jelas tentang perilaku yang diharapkan dan tidak diharapkan (dalam program yang direncanakan).
5. Evaluasi
Kasus ini akan selalu dievaluasi dan dimonitor menggunakan lembar evaluasi dan lembar monitoring yang dibuat saat perencanaan program (contoh lembar evaluasi dan lembar monitoring terlampir). Evaluasi dan monitoring dilakukan ibu subjek sebagai manajer program dan secara berkala akan didiskusikan bersama terapis untuk melihat efektivitas dan kemajuan program tersebut. Evaluasi dilakukan dalam tahapan yang sistematis, seperti berikut:
- Harapan awal dari terapi yaitu subjek mampu membereskan mainan dan barang-barang subjek sindiri.
- Mendengarkan orang lain bicara sampai selesai.
- Mengerjakan aktivitas sampai selesai.
Kasus 2: Autis
1. Pendekatan
Pada pendekatan ini terapis memulainya dengan raport terlebih dahulu kepada subjek agar subjek merasa nyaman untuk melakukan terapi yaitu dengan memberikan pertanyaan umum seperti menanyakan kabarnya, menanyakan perasaannya selama perjalanan ketempat terapi, identitasnya dan juga memberikan pertanyaan khusus seperti menanyakan tentang minat subjek.
2. Menggali Informasi Subjek
Setelah melakukan pendekatan, terapis mencoba menggali informasi dari ibu subjek mengenai ketertarikannya untuk datang ketempat terapi tersebut, jika setelah subjek memberikan keterangan bahwa anaknya mengalami Gangguan Perkembangan. Lalu terapis dapat memulai dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka secara mendalam mengenai gangguan perkembangan anaknya yang tersusun dalam pedoman wawancara. Selain menggunakan pedoman wawancara saat menggali informasi dari subjek terapis juga menggunakan alat tulis.
3. Memilih Terapi yang tepat
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari keluarga subjek mengenai gangguan dalam perkembangan neurologis berat yang mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berelasi (berhubungan) dengan orang lain di sekitarnya secara wajar, maka subjek dapat dikategorikan bahwa ia mengalami autis. Dimana subjek mengalami gangguan yang menetap pada pola interaksi sosial, komunikasi yang menyimpang dan pola tingkah laku yang terbatas dan berulang (stereotipik) dan pada umumnya dan subjek mempunyai fungsi dibawah rata-rata. Maka dalam kasus ini, subjek dapat dibantu melalui Terapi perilaku, Terapi Biomedik.
4. Pelaksanaan Terapi
Terapis membutuhkan ruangan yang nyaman dan tidak bising untuk melakukan terapi tersebut. Pada umumnya terapi perilaku ini ditujukan untuk dua hal yaitu : (1) mengurangi atau menghilangkan perilaku yang berlebihan (mengamuk, agresif, melukai diri sendiri, teriak-teriak, hiperaktif tanpa tujuan dan perilaku lain yang tidak bermanfaat); (2) akan memunculkan perilaku yang masih berkekurangan yaitu: belum bisa bicara, belum merespon bila diajak bicara, kontak mata yang kurang, tidak punya inisiatif, tidak bisa berinteraksi wajar dengan lingkungannya/kurang mampu bersosialisasi . Terapi biomedik meliputi: (1) Pemberian obat-obatan (sesuai dengan gejala-gejala klinis/hasil laboratorium yang ditemukan). Juga bisa diberikan: psikotropika, antibiotik, anti jamur, anti virus, anti parasit; (2) Pengaturan diet tanpa pengawet, tanpa pewarna buatan, pengaturan makanan dengan cara eliminasi sementara dan rotasi, dll;(3) Pemberian Enzim pencernaan; (4) Pemberian Vitamin dan Mineral; (5) Asupan lain, misalnya asam lemak esensial, asam amino, antioksidan, probiotik, dll; (6) Perbaikan fungsi imunologi, sesuai dengan gangguannya; (7)
Chelation (Pengeluaran logam berat).
5. Evaluasi
Evaluasi dilakukan ketika tahap pelaksanaan terapi berakhir. Maka terapis dapat mengutarakan kepada subjek melalui record yang telah dicatat sebelumnya oleh terapis mengenai kemajuan apa saja yang subjek telah capai dan hal apa saja yang harus diperbaiki oleh subjek. Evaluasi dilakukan dalam tahapan yang sistematis, seperti berikut:
- Harapan awal dari terapi yaitu subjek tidak berperilaku yang berlebihan (mangamuk, melukai diri sendiri, berteriak-teriak)
- Saat terapi dilakukan, subjek merasa nyaman.
- Setelah terapi berakhir, maka subjek diharapkan mampu belajar serta meningkatkan perkembangan subjek agar sesuai atau paling sedikit mendekati anak seusianya.
Kasus 3: Kecemasan di depan Umum
1. Pendekatan
Pada pendekatan ini terapis memulainya dengan raport terlebih dahulu kepada subjek agar subjek merasa nyaman untuk melakukan terapi yaitu dengan memberikan pertanyaan umum seperti menanyakan kabarnya, menanyakan perasaannya selama perjalanan ketempat terapi, identitasnya dan juga memberikan pertanyaan khusus seperti menanyakan tentang minat subjek.
2. Menggali Informasi Subjek
Setelah melakukan pendekatan, terapis mencoba menggali informasi dari subjek mengenai ketertarikannya untuk datang ketempat terapi tersebut, jika setelah subjek memberikan keterangan bahwa ia sering kali cemas ketika berbicara di depan orang banyak. Lalu terapis dapat memulai dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka secara mendalam mengenai rasa cemasnya ketika berbicara di depan orang banyak yang tersusun dalam pedoman wawancara serta recorder untuk merekam informasi yang dikatakan subjek, seperti menanyakan “Latar belakang dari ia merasa cemas jika berbicara orang banyak”. Selain menggunakan pedoman wawancara dan recorder saat menggali informasi dari subjek terapis juga menggunakan alat tulis.
3. Memilih Terapi yang tepat
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari subjek mengenai rasa cemasnya ketika berbicara di depan orang banyak, maka subjek dapat dikategorikan bahwa ia mengalami kecemasan berbicara di depan umum. Dimana ketika subjek berbicara di depan orang banyak ia akan menyadari bahwa kecemasannya tidak rasional, tetapi ia tetap merasakan bahwa munculnya kecemasan hanya dapat diredakan apabila ia dapat menghindari untuk berbicara di depan orang banyak. Maka dalam kasus ini, subjek dapat dibantu melalui Prosedur Desentisasi Sistematis yang didahului dengan Hierarki Kecemasan dan juga bisa menggunakan cognitive-behavioural therapy (CBT), pada CBT diberikan teknik pelatihan pernafasan atau meditasi ketika kecemasan muncul, teknik ini diberikan untuk penderita kecemasan yang disertai dengan serangan panik.
4. Pelaksanaan Terapi dan Pengontrolan
Terapis membutuhkan ruangan yang nyaman dan tidak bising serta tempat duduk yang nyaman untuk melakukan terapi tersebut. Kemudian terapis membantu subjek menyusun suatu hierarki dari mendengar cerita mengenai perasaannya untuk berbicara di depan satu atau dua orang sampai dengan perasaannya untuk berbicara di depan umum atau orang banyak. Maka setelah hierarki tersusun, prosedur desentisasi dimulai. Subjek diminta untuk duduk dengan mata tertutup di kursi yang nyaman dengan terapis menguraikan situasi yang tidak membuatnya begitu mencemaskan. Jika subjek dapat membayangkan dirinya berada dalam situasi tersebut tanpa adanya ketegangan otot yang meningkat, terapis akan melanjutkan hal atau situasi lain yang sudah tersusun dalam hierarki. Tetapi jika subjek mengalami kecemasan pada saat membayangkan suatu situasi dengan tingkat tertentu, maka subjek dilatih untuk mengkonsentrasikan pada situasi rileks, sehingga dengan melakukannya berkali-kali kecemasan subjek akan dapat dinetralkan.
Sedangkan pengontrolan dapat dilakukan saat prosedur desentisasi sistematis dilaksanakan, terapis melakukan pengontrolan ketika subjek mengalami kecemasan dalam tingkat tertentu pada hierarki kecemasan sehingga terapis dapat menenangkan subjek dalam situasi rileks.
5. Evaluasi
Evaluasi dilakukan ketika tahap pelaksanaan terapi berakhir. Maka terapis dapat mengutarakan kepada subjek melalui record yang telah dicatat sebelumnya oleh terapis mengenai kemajuan apa saja yang subjek telah capai dan hal apa saja yang harus diperbaiki oleh subjek. Evaluasi dilakukan dalam tahapan yang sistematis, seperti berikut:
- Harapan awal dari terapi yaitu subjek tidak merasakan kecemasan yang irrasional ketika berbicara di depan orang banyak.
- Saat terapi dilakukan, subjek mengalami kecemasan ketika mencapai tahap tertentu dan terapis mencoba menghadapkan subjek di depan orang banyak. Maka terapis berusaha membuat subjek berkonsentrasi pada situasi rileks, sehingga kecemasan subjek netral.
- Setelah terapi berakhir, maka subjek diharapkan untuk dapat menyesuaikan dirinya di luar situasi terapi dan subjek diharapkan dapat menaklukan rasa cemasnya ketika berbicara di depan orang banyak.
Sabtu, 16 Oktober 2010
tugass konsumenn " Keputusan & persepsi konsumen "
A. Proses dan Perilaku Pengambilan Keputusan
Schiffman dan Kanuk (2007) menyatakan bahwa: setiap konsumen melakukan berbagai macam keputusan tentang pencarian, pembelian, penggunaan beragam produk, dan merek pada setiap periode tertentu.
Sedangkan menurut Lamb, et al (2001) menyatakan bahwa: keputusan konsumen untuk menetapkan pilihan terhadap suatu produk dan pilihan-pilihan jasa dapat berubah secara terus-menerus. Setelah mendapatkan informasi dan merancang sejumlah pertimbangan dari produk yang tersedia, konsumen siap untuk membuat suatu keputusan.
Berdasarkan uraian di atas berbagai macam keputusan seringkali harus dilakukan oleh setiap konsumen pada setiap hari. Konsumen melakukan keputusan setiap hari atau setiap periode tanpa menyadari bahwa mereka telah mengambil keputusan. Sebuah keputusan adalah seleksi terhadap dua pilihan alternatif atau lebih. Dengan perkataan lain, pilihan alternatif harus tersedia bagi seseorang ketika mengambil keputusan.
Suatu keputusan melibatkan pilihan alternatif. Pemasaran biasanya terkait pada perilaku pembelian konsumen, terutama pilihan mereka. Semua aspek pengaruh dan kognisi dilibatkan dalam pengambilan keputusan konsumen. Akan tetapi inti dari pengambilan keputusan konsumen adalah proses pengintegrasian yang mengkombinasikan pengetahuan untuk mengkombinasi pengetahuan untuk mengevaluasi alternatif-alternatif dan memilih salah satu diantaranya. Proses pengambilan keputusan tersebut antara lain:
1. Pengenalan masalah
Proses membeli diawali saat pembeli menyadari adanya masalah kebutuhan. Pembeli menyadari terdapat perbedaan antara kondisi yang sesungguhnya dengan kondisi yang diinginkannya. Kebutuhan ini dapat disebabkan oleh rangsangan internal atau rangsangan eksternal seseorang.
2. Pencarian informasi
Seorang konsumen yang mulai timbul minatnya akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Sumber-sumber informasi konsumen dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, antara lain:
Sumber pribadi : keluarga, teman, tetangga, dan kenalan
Sumber komersil : iklan, tenaga penjualan, penyalur, pameran
Sumber umum : media massa, organisasi konsumen
Sumber pengalaman : pernah menangani, menguji, menggunakan produk
3. Evaluasi alternatif
Ada beberapa proses evaluasi keputusan. Kebanyakan model dari proses evaluasi konsumen sekarang bersifat kognitif, yaitu mereka memandang konsumen sebagai pembentuk penilaian terhadap produk terutama berdasarkan pada pertimbangan yang sadar dan rasional.
4. Keputusan membeli
Pada tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi terhadap pilihan-pilihan. Konsumen mungkin juga membentuk tujuan membeli untuk merek yang paling disukai. Walaupun demikian ada dua faktor yang mempengaruhi tujuan membeli dan keputusan membeli. Faktor yang pertama adalah sikap atau pendirian orang lain, sejauh mana sikap orang lain akan mengurangi alternatif pilihan seseorang akan tergantung pada dua hal, antara lain:
Intensitas sikap negatif orang lain tersebut terhadap altenatif pilihan konsumen
Motivasi konsumen untuk menuruti keingian orang lain tersebut
Semakin tinggi intensitas sikap negatif orang lain tersebut akan semakin dekat hubungan orang tersebut dengan konsumen, maka semakin besar kemungkian konsumen akan menyesuaikan tujuan pembeliannya. Tujuan pembelian juga akan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti: pendapatan keluarga yang diharapkan, harga yang diharapkan, dan manfaat produk yang diharapkan. Pada saat konsumen ingin bertindak, faktor-faktor keadaan yang tidak terduga mungkin timbul dan mengubah tujuan membeli.
5. Perilaku sesudah pembelian
Sesudah pembelian terhadap suatu produk yang dilakukan konsumen akan mengalami beberapa tingkat ketidakpuasan. Konsumen tersebut juga akan terlibat dalam tindakan-tindakan sesudah pembelian dan menggunakan produk yang akan menarik minat pemasar. Pekerjaan minat pemasar tidak akan berakhir pada saat suatu produk dibeli, tetapi akan terus berlangsung periode sesudah pembelian.
Kepuasan pembelian merupakn fungsi dari seberapa dekat antara harapan pembeli atas produk tersebut dengan daya guna yang dirasakan dari produk tersebut. Jika daya guna produk tersebut dibawah harapan pelanggan, maka pelanggan tersebut akan merasa dikecewakan. Jika memenuhi harapan pelanggan, maka pelanggan tersebut akan merasa sangat puas. Perasaan-perasaan ini mempunyai arti dalam hal apakah pelanggan akan membeli produk itu lagi dan membicarakan tentang produk tersebut kepada orang lain secara menguntungkan atau merugikan.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan menurut Kismono (2001) adalah sebagai berikut:
1. Faktor Budaya
Merupakan penentu yang paling fundamental dalam membentuk keinginan dalam keputusn pembelian karena berdasarkan persepsi, represi, dan proses sosialisasi lingkungan.
2. Faktor Sosial
Merupakan faktor yang mempengaruhi kelompok reprensi, keluarga, dan peranan sosial dalam masyarakat
3. Faktor Kepribadian
Merupakan faktor karakteristik pribadi yang memepengaruhi tingkah laku.
4. Faktor Psikologis
Terdiri atas motivasi, persepsi, pembelajaran, dan keyakinan.
B. Persepsi Konsumen
Boyd, et al (2000) menyatakan bahwa: persepsi (perception) adalah proses dengan apa seseorang memilih, mengatur, dan menginterpretasi informasi.
Menurut Lamb, et al (2001) menyatakan bahwa: karakteristik pribadi konsumen – seperti kebutuhan, sikap, kepercayaan, dan pengalaman masa lalu tertentu mereka terhadap kategori produk – mempengaruhi informasi yang mereka perhatikan, kuasai dan ingat. Karakteristik pesan itu sendiri dan cara pesan itu disampaikan juga mempengaruhi persepsi konsumen. Proses dimana kita memilih, mengatur dan menginterpretasikan rangsangan (stimulus) kedalam gambaran yang memberi makna dan melekat disebut persepsi. Singkatnya, persepsi adalah cara kita memandang dunia di sekitar kita serta bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita membutuhkan bantuan dalam membuat suatu keputusan pembelian.
Persepsi setiap orang terhadap suatu obyek akan berbeda-beda. Oleh karena itu persepsi memiliki sifat subyektif. Persepsi yang dibentuk oleh seseorang dipengaruhi oleh pikiran dan lingkungan sekitarnya.
Dibandingkan dengan perusahaan manufaktur, pemasaran jasa menghadapi beberapa masalah yang unik dalam penawarannya. Sebelum pembelian terjadi, seseorang mungkin saja menggunakan konsumen lain sebagai petunjuk jasa yang akan dibelinya dan untuk segmen pasar jasa tersebut. Konsumen lain dapat juga mempengaruhi persepsi tentang jasa.
Sering terjadi bahwa pengalaman tentang jasa itu sendiri sering dipengaruhi oleh konsumen lain. Pengalaman seorang konsumen bisa saja dengan mudah mempengaruhi sejumlah konsumen lain. Kadang-kadang, kebutuhan seorang konsumen bahkan bertentangan dengan konsumen lain.
Citra kualitas yang baik bukanlah berdasarkan sudut pandang atau persepsi pihak penyedia jasa, melainkan berdasarkan sudut pandang atau persepsi konsumen. Persepsi konsumen terhadap kualitas jasa (consumer perceived service quality) merupakan penilaian menyeluruh atas keunggulan suatu jasa dari sudut pandang konsumen. Hal ini yang harus di kenali oleh pemasar, untuk mempengaruhi persepsi konsumen terhadap produk atau jasa. Konsumen akan mau membayar lebih apabila mereka kebutuhan telah terpenuhi dan memuaskan.
Referensi:
Kismono, Gugup. 2001. Pengantar Bisnis. Yogyakarta : BPFE
Lamb, Charles W; Joseph F. Hair; dan Carl McDaniel. 2001. Pemasaran. Alih Bahasa. David Octarevia. Edisi Pertama. Jilid Pertama. Jakarta: Salemba Empat
Boyd, W. Harper Jr., Orville C. Jr. Dan Jean-Claude Larreche. 2000. Manajemen Pemasaran: Suatu Pendekatan Strategis dengan Orientasi Global. Jakarta: Erlangga
Schiffman, Leon dan Kanuk, Leslie Lazar. 2007. Perilaku Konsumen. Alih Bahasa. Jakarta: Indeks
Sabtu, 09 Oktober 2010
tugas psikoligi konsumen
Perilaku Konsumen
- A. Pengertian
Setelah kita membahas tentang psikologi konsumen, konsep konsumsi, konsumen, konsumtif dan konsumerisme, sekarang saatnya kita akan membahas tentang perilaku konsumen itu sendiri.
Perilaku konsumen menurut Shiffman dan Kanuk (2000) adalah “Consumer behavior can be defined as the behavior that customer display in searching for, purchasing, using, evaluating, and disposing of products, services, and ideas they expect will satisfy they needs”. Pengertian tersebut berarti perilaku yang diperhatikan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan mengabaikan produk, jasa, atau ide yang diharapkan dapat memuaskan konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya dengan mengkonsumsi produk atau jasa yang ditawarkan.
Selain itu perilku konsumen merupakan,“Consumer behavior may be defined as the decision process and physical activity individuals engage in when evaluating, acquiring, using, or disposing of goods and services” (Loudon dan Della Bitta, 1993). Dapat dijelaskan perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik individu-individu yang semuanya ini melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan, menggunakan, atau mengabaikan barang-barang dan jasa-jasa.
Sedangkan menurut Ebert dan Griffin (1995) consumer behavior dijelaskan sebagai: “the various facets of the decision of the decision process by which customers come to purchase and consume a product”. Dapat dijelaskan sebagai upaya konsumen untuk membuat keputusan tentang suatu produk yang dibeli dan dikonsumsi.
Dari pengertian di atas, ada dua elemen penting yaitu elemen proses pengambilan keputusan dan elemen kegiatan secara fisik. Kedua elemen tersebut melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan serta menggunakan barang dan jasa. Konsumen membeli barang dan jasa adalah untuk mendapatkan manfaat dari barang dan jasa tersebut. Jadi perilaku konsumen tidak hanya mempelajari apa yang dibeli atau dikonsumsi oleh konsumen saja, tetapi juga dimana, bagaimana kebiasaan dan dalam kondisi macam apa produk dan jasa yang dibeli.
- B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dibagi menjadi 2 bagian berdasarkan landasan teori dan berdasarkan keputusan pembelian dari pembeli.
Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen berdasarkan landasan teori
Berdasarkan landasan teori, ada dua faktor dasar yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu faktor eksternal dan faktor internal.
Y Faktor eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang meliputi pengaruh keluarga, kelas sosial, kebudayaan, marketing strategy, dan kelompok referensi. Kelompok referensi merupakan kelompok yang memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung pada sikap dan prilaku konsumen. Kelompok referensi mempengaruhi perilaku seseorang dalam pembelian dan sering dijadikan pedoman oleh konsumen dalam bertingkah laku.
Y Faktor internal
Faktor-faktor yang termasuk ke dalam faktor internal adalah motivasi, persepsi, sikap, gaya hidup, kepribadian dan belajar. Belajar menggambarkan perubahan dalam perilaku seseorang individu yang bersumber dari pengalaman. Seringkali perilaku manusia diperoleh dari mempelajari sesuatu.
Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen berdasarkan keputusan pembelian dari pembeli
Menurut Philip Kotler dan Gary Armstrong (1996) keputusan pembelian dari pembeli sangat dipengaruhi oleh faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologi dari pembeli.
Y Faktor Budaya
Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam bagi perilaku konsumen. Perusahaan harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh budaya, subbudaya dan kelas sosial pembeli. Budaya adalah penyebab paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Budaya merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan perilaku yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya.
Setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya – sub-budaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Sub-budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis: kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, area geografis. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar sering kali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Kelas-kelas sosial adalah masyarakat yang relatif permanen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan keanggotaannya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial bukan ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur dari kombinasi pendapatan, pekerjaan, pendidikan, kekayaan dan variable lain.
Y Faktor Sosial
Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor sosial, seperti kelompok kecil, keluarga serta peranan dan status sosial konsumen. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil. Kelompok yang mempunyai pengaruh langsung. Definisi kelompok adalah dua orang atau lebih yang berinteraksi untuk mencapai sasaran individu atau bersama.
Keluarga dapat pempengaruhi perilaku pembelian. Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat. Keputusan pembelian keluarga, tergantung pada produk, iklan dan situasi.
Seseorang umumnya berpartisipasi dalam kelompok selama hidupnya-keluarga, klub, organisasi. Posisi seseorang dalam setiap kelompok dapat diidentifikasikan dalam peran dan status. Setiap peran membawa status yang mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat.
Y Faktor Pribadi
Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahapan daur hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli.
Konsumsi seseorang juga dibentuk oleh tahapan siklus hidup keluarga. Beberapa penelitian terakhir telah mengidentifikasi tahapan-tahapan dalam siklus hidup psikologis. Orang-orang dewasa biasanya mengalami perubahan atau transformasi tertentu pada saat mereka menjalani hidupnya. Pekerjaan mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya. Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok-kelompok pekerja yang memiliki minat di atas rata-rata terhadap produk dan jasa tertentu.
Situasi ekonomi seseorang akan mempengaruhi pemilihan produk. Situasi ekonomi seseorang terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan (tingkatnya, stabilitasnya, dan polanya), tabungan dan hartanya (termasuk presentase yang mudah dijadikan uang ).
Gaya hidup seseorang adalah pola hidup di dunia yang diekspresikan oleh kegiatan, minat dan pendapat seseorang. Gaya hidup menggambarkan “seseorang secara keseluruhan” yang berinteraksi dengan lingkungan. Gaya hidup juga mencerminkan sesuatu dibalik kelas sosial seseorang.
Kepribadian adalah karakteristik psikologis yang berada dari setiap orang yang memandang responnya terhadap lingkungan yang relatif konsisten. Kepribadian dapat merupakan suatu variabel yang sangat berguna dalam menganalisa perilaku konsumen. Bila jenis- jenis kepribadian dapat diklasifikasikan dan memiliki korelasi yang kuat antara jenis-jenis kepribadian tersebut dengan berbagai pilihan produk atau merek.
Y Faktor Psikologis
Pemilihan barang yang dibeli seseorang lebih lanjut dipengaruhi oleh empat faktor psikologis, yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan serta kepercayaan.
Motivasi merupakan kebutuhan yang cukup menekan untuk mengarahkan seseorang mencari cara untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Beberapa kebutuhan bersifat biogenik, kebutuhan ini timbul dari suatu keadaan fisiologis tertentu, seperti rasa lapar, rasa haus, rasa tidak nyaman. Sedangkan kebutuhan-kebutuhan lain bersifat psikogenik yaitu kebutuhan yang timbul dari keadaan fisologis tertentu, seperti kebutuhan untuk diakui, kebutuhan harga diri atau kebutuhan diterima.
Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana seseorang memilih, mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang berarti dari dunia ini. Orang dapat memiliki persepsi yang berbeda-beda dari objek yang sama karena adanya tiga proses persepsi:
• Perhatian yang selektif
• Gangguan yang selektif
• Mengingat kembali yang selektif
Pembelajaran menjelaskan perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman. Sedang kepercayaan merupakan suatu pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.
Y Faktor Marketing Strategy
Merupakan variabel dimana pemasar mengendalikan usahanya dalam memberitahu dan mempengaruhi konsumen. Variabel-variabelnya adalah:
ü Barang
ü Harga
ü Periklanan dan
ü Distribusi yang mendorong konsumen dalam proses pengambilan keputusan.
Pemasar harus mengumpulkan informasi dari konsumen untuk evaluasi kesempatan utama pemasaran dalam pengembangan pemasaran. Kebutuhan ini digambarkan dengan garis panah dua arah antara strategi pemasaran dan keputusan konsumen dalam gambar 1.1 penelitian pemasaran memberikan informasi kepada organisasi pemasaran mengenai kebutuhan konsumen, persepsi tentang karakteristik merek, dan sikap terhadap pilihan merek.
Strategi pemasaran kemudian dikembangkan dan diarahkan kepada konsumen. Ketika konsumen telah mengambil keputusan kemudian evaluasi pembelian masa lalu, digambarkan sebagai umpan balik kepada konsumen individu. Selama evaluasi, konsumen akan belajar dari pengalaman dan pola pengumpulan informasi mungkin berubah, evaluasi merek, dan pemilihan merek. Pengalamn konsumsi secara langsung akan berpengaruh apakah konsumen akan membeli merek yang sama lagi.
Panah umpan balik mengarah kembali kepada organisasi pemasaran. Pemasar akan mengiikuti rensponsi konsumen dalam bentuk saham pasar dan data penjualan. Tetapi informasi ini tidak menceritakan kepada pemasar tentang mengapa konsumen membeli atau informasi tentang kekuatan dan kelemahan dari merek pemasar secara relatif terhadap saingan. Karena itu penelitian pemasaran diperlukan pada tahap ini untuk menentukan reaksi konsumen terhadap merek dan kecenderungan pembelian dimasa yang akan datang. Informasi ini mengarahkan pada manajemen untuk merumuskan kembali strategi pemasaran kearah pemenuhan kebutuhan konsumen yang lebih baik.
- Contoh Kasus
Beberapa contoh yang mungkin bisa menjadi pedoman kita, yaitu:
Y Seseorang yang berencana untuk membeli rumah mewah. Sebelum membeli rumah tersebut, orang itu akan menimbang-nimbang harganya, model rumahnya dan luas atau tidaknya rumah tersebut, setelah itu baru membeli.
Y Mahasiswa yang ingin membeli buku. Sebelum membeli, mahasiswa tersebut akan terlebih dahulu mencari tehu pengarang buku tersebut dan melihat kualitas dari buku itu, baru membelinya.
Y Orang yang akan membeli makanan. Sebelum membeli, akan mencari tempat menjual makanan yang bersih, enak dan mungkin juga melihat dari harganya, baru membeli makanan tersebut.
Sumber referensi:
Y Anonim. Teori Perilaku Konsumen. digilib.petra.ac.id. Diakses 18 Agustus 2008.
Y Hamidah. Perilaku Konsumen Dan Tindakan Pemasaran. library.usu.ac.id. Diakses 18 Agustus 2008.
Y Wijayanti, Ani S. Pentingnya Perilaku Konsumen Dalam Menciptakan Iklan Yang Efektif . puslit.petra.ac.id. Diakses 18 Agustus 2008.
Sabtu, 02 Oktober 2010
tugas psikologi konsumen
Konsep Konsumsi, Konsumen, Konsumtif, dan Konsumerisme
1. Konsumsi
Konsumsi, dari bahasa Belanda consumptie, ialah suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung.
Konsumsi merupakan tindakan pemenuhan kebutuhan atau tindakan menghabiskan dan atau mengurangi nilai guna suatu barang atau jasa. Kegiatan konsumsi merupakan tindakan pemuasan atas berbagai jenis tuntutan kebutuhan manusia.
Menurut Chaney (2003) konsumsi adalah seluruh tipe aktifitas sosial yang orang lakukan sehingga dapat di pakai untuk mencirikan dan mengenal mereka, selain (sebagai tambahan) apa yang mungkin mereka lakukan untuk hidup. Chaney menambahkan, gagasan bahwa konsumsi telah menjadi (atau sedang menjadi) fokus utama kehidupan sosial dan nilai-nilai kultural mendasari gagasan lebih umum dari budaya konsumen.
Menurut Braudrillard (2004), konsumsi adalah sistem yang menjalankan urutan tanda-tanda dan penyatuan kelompok. Jadi konsumsi itu sekaligus sebagai moral (sebuah sistemideologi) dan sistem komunikasi, struktur pertukaran. Dengan konsumsi sebagai moral, maka akan menjadi fungsi sosial yang memiliki organisasi yang terstruktur yang kemudian memaksa mereka mengikuti paksaan sosial yang tak disadari.
Contohnya : Menempati rumah, memakai parfum, menghabiskan makanan.
2. Konsumen
Berdasarkan Pasal 1 ayat 1 Undang-undang Perlindungan Konsumen, menjelaskan definisi konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
Menurut Philip Kotler, pengertian konsumen adalah semua individu dan rumah tangga yang membeli atau memperoleh barang atau jasa untuk di konsumsi pribadi.
Menurut Aziz Nasution, konsumen pada umumnya adalah setiap orang yang mendapatkan barang atau jasa digunakan untuk tujuan tertentu.
Contohnya : Remaja yang membeli pakaian di pusat perbelanjaan.
Dua hal yang menjadikan seseorang disebut sebagai konsumen :
a. Membeli
Bagi seseorang yang memperoleh barang atau jasa dengan cara membeli, tentu dia terlibat dengan perjanjian dengan pelaku usaha/produsen.
b. Hadiah, Hibah dan Warisan
Seseorang memperoleh barang tetapi tidak terlibat dalam suatu hubungan kontraktual dengan pelaku usaha atau dengan kata lain, seseorang memperoleh barang atau jasa dengan cuma – Cuma.
Jenis Konsumen
a. Konsumen Antara
Setiap orang yang mendapatkan barang atau jasa untuk digunakan dengan tujuan komersial atau dengan kata lain, mereka membeli barang bukan untuk dipakai, melainkan untuk diperdagangkan. Contoh : Distributor, Agen dan Pengecer .
b. Konsumen Akhir
Setiap orang yang mendapatkan dan menggunakan barang atau jasa untuk tujuan memenuhi hidupnya pribadi, keluarga dan tidak untuk diperdagangkan kembali.
3. Konsumtif
Konsumtivisme merupakan paham untuk hidup secara konsumtif, sehingga orang yang konsumtif dapat dikatakan tidak lagi mempertimbangkan fungsi atau kegunaan ketika membeli barang melainkan mempertimbangkan prestise yang melekat pada barang tersebut. Oleh karena itu, arti kata konsumtif (consumtive) adalah boros atau perilaku yang boros, yang mengonsumsi barang atau jasa secara berlebihan. Dalam artian luas konsumtif adalah perilaku berkonsumsi yang boros dan berlebihan, yang lebih mendahulukan keinginan daripada kebutuhan, serta tidak ada skala prioritas atau juga dapat diartikan sebagai gaya hidup yang bermewah-mewah.
Menurut Lubis (dalam Lina & Rasyid, 1997) mendefinisikan perilaku konsumtif sebagai perilaku membeli atau memakai yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional melainkan adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang sudah tidak rasional lagi.
Adapun pengertian konsumtif, menurut Yayasan Lembaga Konsumen (YLK), yaitu batasan tentang perilaku konsumtif yaitu sebagai kecenderungan manusia untuk menggunakan konsumsi tanpa batas. Definisi konsep perilaku konsumtif sebenarnya amat variatif. Tapi pada intinya perilaku konsumtif adalah membeli atau mengunakan barang tanpa pertimbangan rasional atau bukan atas dasar kebutuhan.
Contohnya : remaja yang selalu ingin tampil gaul, membeli segala barang yang di anggapnya sedang up to date. Seperti membeli pakaian yang modis, membeli handphone terbaru.
4. Konsumerisme
Konsumerisme adalah kata yang diadopsi dari bahasa asing yaitu consumerism. Menurut Encyclopedia Britanica, Konsumerisme sebagai gerakan atau kebijaksanaan yang diarahkan untuk menata metode dan standar kerja produsen, penjual dan pengiklan untuk kepentingan pihak pembeli.
Konsumerisme adalah kebijakan dan aktivitas yang dirancang untuk melindungi kepentingan dan hak konsumen ketika mereka terlibat dalam hubungan pertukaran dengan organisasi jenis apa pun.
Konsumerisme baru adalah konsumerisme kontemporer, yang umumnya diduga dimulai dengan pidato presiden Kennedy pada tahun 1962 tentang pernyataan hak-hak konsumen.
Dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia kontemporer (Peter Salim, 1996), arti konsumerisme (consumerism) adalah cara melindungi publik dengan memberitahukan kepada mereka tentang barang-barang yang berkualitas buruk, tidak aman dipakai dan sebagainya. Selain itu, arti kata ini adalah pemakaian barang dan jasa. Bila kita telesuri makna kata konsumtivisme maupun konsumerisme bukan sesuatu hal yang baru. Sebab pada dasarnya -isme yang satu ini ternyata sudah lama ada dan sejak awal telah mengakar kuat di dalam kemanusiaan kita (our humanity). Hal ini bisa kita lihat dari ekspresinya yang paling primitif hingga yang paling mutakhir di jaman modern ini.
Sumber:
Rabu, 12 Mei 2010
trauma anak palestina
Seorang ayah, dengan nada sedih menceritakan bagaimana puteranya yang berusia lima tahun, bernama Bara', mengoleskan cat mobil warna merah ke mainan beruang kecilnya yang diberi nama Memo. Bara kemudian menunjukkan Memo yang sudah berlumuran cat warna merah kepada sang ayah sambil berkata, "Ayah, orang-orang Israel telah membunuh Memo."
Ayah Bara langsung tersentak melihat apa yang dilakukan puteranya."Saya sangat tercengang, bukan karena ia telah membuang-buang cat mobil saya yang sangat susah didapat dalam kondisi Ghaza sedang dalam pengepungan, tapi karena melihat anak saya kehilangan sifat anak-anaknya dalam usia semuda itu, " ujarnya.
"Hati saya hancur melihat putera saya berpikiran seperti itu, " sambungnya.
Lain lagi yang terjadi pada Asil, anak Palestina lainnya yang masih berusia 8 tahun. Suatu hari, Asil tidur dengan memdekap boneka di satu tangannya dan sebuah pulpen bertinta merah di tangan satunya lagi. Beberapa menit kemudian terdengar suara Asil menjerit. Keluarganya kaget dan langsung berlari ke kamar Asil.
"Bonekaku mati. Dia sedang tidur ketika Israel membunuhnya dengan misil, " kata Asil sambil menunjukkan bonekanya yang kini sudah berwarna merah. Asil rupanya menggunakan pulpen bertinta merah itu untuk mencoret-coret bonekanya, seolah-olah sebagai darah.
Melihat semua itu, sang ibu yang sudah kehilangan kata-kata hanya bilang, "Kita harus segera menguburkannya."
"Cuma itu permainan mereka sejak holocaust di Ghaza, " kata ibu Asil sambil menangis, menceritakan tentang pembantaian keji yang baru-baru ini dilakukan Israel ke Jalur Ghaza, yang menyebabkan 129 warga Ghaza, 40 anak-anak termasuk seorang bayi yang baru lahir dan 13 kaum perempuan, gugur.
Sementara itu, tak jauh dari rumah Asil, tinggalah Sufian, bocah Palestina berusia 12 tahun. Beberapa hari belakangan ini, Sufian merengek minta dibelikan sebotol tinta berwarna merah. Ayah Sufian berpikir, tinta itu dibutuhkan untuk keperluan pelajaran menggambar di sekolah puteranya, sehingga sang ayah pun membelikan sebotol tinta berwarna merah.
Begitu mendapatkan botol tinta itu, Sufian mengumpulkan semua mainannya dan mainan saudara-saudaranya yang lain, dan mengecat mainan-mainan itu dengan sebotol tinta merah yang dimintanya. Lalu Sufian berkata pada ayahnya, "Lihatlah, apa yang telah dilakukan Israel pada mainan-mainan kami. Ini adalah holocaust yang dilakukan Israel."
pakar mengatakan, apa yang terjadi pada anak-anak di Ghaza merupakan dampak yang alamiah akibat trauma kehidupan yang mereka alami.
"Kita mendapatkannya dari lingkungan sekitar kita, " kata Fadl Abu-Haien, profesor bidang psikologi di Universitas al-Aqsa di Ghaza. Anak-anak itu, kata Abu Haien, tinggal di Ghaza yang kini sedang dikepung dan di tengah pemandangan pertumpahan darah dan agresi yang tak henti dilakukan Israel.
"Banyak di antara mereka, bahkan menyaksikan orang-orang yang mereka cintai meninggal, " tukas Abu Haien.
Menurut Abu Haien, ia menjumpai lebih dari 150 anak yang secara psikologis mengalami ketakutan, menunjukkan gejala depresi dan selalu gelisah, pasca pembantaian Israel kemarin.
Gejala memprihatinkan ini, sudah diamati oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mengatakan bahwa "anak-anak Palestina menghadapi bahaya berupa kehancuran psikologis yang sulit dipulihkan."
Tahun 2006, studi yang dilakukan Queen Univesrity, Kanada menyebutkan, mayoritas anak-anak di Palestina pernah merasakan kena gas air mata, menyaksikan rumah-rumah mereka dihancurkan dan menjadi saksi hidup pertempuran serta ledakan-ledakan bom. Hasil studi itu menyimpulkan, kekerasan yang sudah terpola sedemikian rupa, membuat anak-anak Palestina takut untuk hidup.
"Ada lubang hitam yang tumbuh di dalam pikiran dan jiwa mereka, " tambah Profesor Abu Haien.
anak trauma akibat kekerasan seksual...
Ibu Dira (5 th) menemukan celana dalam putrinya ‘kotor;. Dai ruang dokter, Dira menangis tak mau diperiksa. Akhirnya dokter berhasil menemukan penyebab sakitnya Dira: infeksi akibat hubungan seksual. Rupanya Dira dipaksa melakuakn hubungan seksual dengan tukang kebun di rumahnya, saat orang tuanya pergi.
pernikakahan di bawah umur...
Seto Mulyadi [SM]: Beliau sangat menghargai kedatangan kami dari Komnas Perlindungan Anak dan kemudian juga meminta maaf atas semua pernyataan-pernyataannya dan atas desakan atau permintaan dari Komnas Perlindungan Anak untuk membatalkan pernikahan tersebut, akhirnya Syekh Puji menyatakan setuju mau menerima, dan akan segera mengembalikan gadis berusia di bawah 12 tahun tadi kepada orang tuanya dengan disaksikan oleh Komnas Perlindungan Anak.
Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Berdasarkan apa keputusannya itu?
SM: Keputusan itu didasarkan penjelasan-penjelasan dari kami bahwa walaupun mungkin menurut Syariat Islam itu benar, tetapi menurut hukum positif di Indonesia hal itu tidak bisa dibenarkan. Karena bertentangan dengan undang-undang perkawinan dan juga undang-undang perlindungan anak serta KUHP, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, pasal 288 ayat 1.
RNW: Apakah kasus semacam ini sering terjadi di Indonesia?
Menjadi pelajaran berhargaSM: Ya, nampaknya banyak terjadi di desa-desa baik itu di Jawa Tengah maupun di Jawa Timur dan memang hal ini karena kadang-kadang kurangnya sosialisasi. Jadi ini mungkin dengan sadarnya Syekh Puji mengenai kekeliruannya bisa menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat luas untuk tidak mentoleransi adanya pernikahan pada anak-anak di bawah umur.
RNW: Tapi kan sebenarnya sudah ada ya, undang-undang yang melarang pernikahan di bawah usia 16 tahun. Mengapa perkawinan di bawah umur masih tetap terjadi?
SM: Ya, justru tadi karena kurang tersosialisasikannya undang-undang tersebut. Beberapa pihak melihat Syariat Islam itu dimungkinkan pernikahan yang dilakukan oleh seorang perempuan asal sudah akil balik dan sudah menstruasi.
RNW: Soal undang-undang perkawinan ya, menurut Anda undang-undang ini cukup melindungi hak gadis di bawah umur, hak anak?
SM: Seharusnya dengan adanya undang-undang ini melindungi hak gadis di bawah umur. Mungkin juga masih ada ditambahi lagi dengan adanya undang-undang perlindungan anak, khususnya pasal yang berkaitan dengan tentu melakukan hubungan badan antara pria dan wanita pada anak-anak yaitu pada pasal 81, 82 dan juga pasal 88.
RNW: Ya, tapi ini kan sebenarnya masalah tradisional ya. Lalu bagaimana cara menghadapi aturan-aturan tradisional yang justru seringkali melanggar hak anak?Menyadari kekeliruanSM: Itu tadi sosialisasi yang harus lebih gencar lagi dilakukan dengan adanya seruan untuk menciptakan A World Fit for Children, dunia ramah anak, maka kita juga lihat adanya upaya-upaya pemerintah untuk menggalakkan moto kota yang ramah anak, desa yang ramah anak sehingga hak-hak anak betul-betul dapat dijunjung tinggi dan anak-anak dapat dilindungi dari berbagai tindak kekerasan maupun penyalahgunaan.
RNW: Lalu bagaimana Anda menanggapi keputusan si Syekh itu untuk membatalkan pernikahan?
SM: Ya, saya memberikan apresiasi yang cukup tinggi karena Syekh itu akhirnya menyadari kekeliruannya. Artinya berani untuk bertanggungjawab dan kemudian sesuai dengan hukum positif di Indonesia bahwa itu dilarang, maka berani untuk membatalkan pernikahan tersebut, dan kemudian akan menyerahkan kembali atau mengembalikan kepada kedua orang tuanya.
RNW: Tapi sebenarnya saya juga dengar bahwa orang tuanya sebenarnya juga sudah merestui pernikahan ini ya pak?
SM: Itu tadi karena kurangnya dipahami di desa-desa mengenai adanya undang-undang yang melarang anak di bawah umur untuk dinikahkan. Jadi bisa saja merestui karena tidak tahu. Jadi kami sebetulnya juga akan segera menemui kedua orang tuanya untuk menjelaskan ini semua supaya berkenan untuk menerima kembali putrinya.
balita pecandu rokok 2...
Saat kedatangan tim medis, Galih Ramadhan tengah asik memegang sebatang rokok yang baru saja diisapnya. Saat itu Galih sedang bersama anak-anak seusianya dan salah seorang kakaknya berada di pematang sawah sambil memancing ikan di selokan yang mengalir dekat rumahnya.
Lurah Subang Jaya, Asep Koswara mengharapkan tiada lag seorang anak balita yang menghisap rokok di Kota Sukabumi. Maka itu, pihaknya akan memberikan perhatian khusus terhadap anak balita yang menghisap rokok tersebut.
Diantaranya memasukan ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada pagi harinya dan sekolah agama pada siang harinya.
”Untuk memberhentikan secara langsung tentunya tidak akan bisa harus secara bertahap. Nah dengan masuk PAUD dan sekolah agama mudah-mudahan akan memberikan kesibukan hingga diharapkan akan lupa dengan rokok,” harap Asep.
Kepala Puskesmas Cikole, Drg. Suhendro Rusli Suhendro Rusli menjelaskan hasil pemeriksaan medis terhadap Galih secara umum kondisi kesehatannya baik. Hanya saja pada bagian giginya terdapat bekas nikotin yang sudah terlihat tebal, baik dalam maupun luarnya.
”Pengaruh dari menghisap rokok ini tidak langsung akan dirasakan, karena membutuhkan waktu lama hingga bertahun-tahun. Saat ini daya tahan tubuh masih baik, juga pengakuan orangtua Galih tidak mengeluhkan apa-apa,” pungkasnya.
balita pecandu rokok...
gangguan skizofernia 3
gangguan skizofrenia 2
gangguan skizofrenia
gangguan depresi...
Ketika dilakukan wawancara dan pemeriksaan psikiatrik, suaranya pelan, gerak-geriknya minimal, dan ia sering menanyakan ulang pertanyaan yang ditanyakan oleh psikiater pemeriksa.
Tuan A menceritakan bahwa ia sudah merasa sedih berkepanjangan di mana hampir tak ada satu haripun ia merasa bahagia selama 1 bulan terakhir dan aktivitasnya terbatas di dalam rumah saja. Satu bulan lalu ternyata ia baru saja di PHK dari pekerjaannya.
Rasa sedihnya disertai dengan penurunan berat badan yang nyata sekitar 3-4 kg karena hilangnya nafsu makan, kehilangan semangat dalam melakukan aktivitas sehari-hari, sulit untuk jatuh tidur atau kalau pun bisa ia mudah sekali terbangun dari tidurnya.
Setelah beberapa saat kemudian, Tuan A bercerita bahwa perasaan sedihnya bertambah parah semenjak dua minggu terakhir, ia menjadi mudah menangis tanpa sebab-sebab yang jelas dan ia merasa pesimis dengan masa depannya serta keluarganya. Akhir-akhir ini, ia berpikir bahwa hidupnya tidak berharga dan lebih baik ia mati saja.
Semenjak di PHK Tuan A juga tidak pernah lagi mencoba mencari pekerjaan baru karena merasa putus asa dengan hidupnya selain itu saat ini dia menjadi menarik diri dari pergaulan padahal dahulu ia dikenal sebagai orang yang aktif dalam kegiatan RT di lingkungannya. Rasa sedihnya menjadi bertambah parah karena Tuan A mulai kebingungan akan pembiayaan hidupnya sehari-hari beserta keluarganya.
Gejala-gejala yang dialami oleh Tuan A di atas merupakan bagian dari gangguan depresi mayor dan contoh kasus di atas merupakan salah satu contoh kasus yang ekstrim. Gangguan ini termasuk dalam kelompok gangguan jiwa dan merupakan salah satu jenis gangguan afektif (gangguan terkait suasana perasaan).
Di Amerika Serikat, depresi saat ini merupakan penyebab disabilitas terbesar. Sedangkan menurut WHO, di seluruh dunia pada tahun 2020, diperkirakan bahwa depresi akan menjadi penyebab disabilitas terbesar nomor dua. Gangguan ini sering kali tidak terdeteksi dengan benar dan akibatnya tidak mendapat tatalaksana yang benar pula.
Depresi yang tidak diterapi dengan benar akan menyebabkan penderitaan serta disabilitas terutama dalam bidang sosial dan pekerjaan. Oleh sebab itu dapat dibayangkan tingkat keparahan dampaknya bagi suatu negara baik secara ekonomis dan non-ekonomis baik pada masa kini maupun pada masa depan.
Hal yang harus diperhatikan pada gangguan depresi mayor adalah seringnya kondisi ini disertai dengan ide-ide ataupun percobaan bunuh diri. Rata-rata angka kematian akibat bunuh diri pada pasien dengan gangguan depresi mayor adalah sekitar 15 persen. Gangguan depresi mayor merupakan faktor penyebab pada setidaknya setengah kasus percobaan bunuh diri di Amerika Serikat dan bahkan di dunia. Terdapat fakta-fakta yang menyebutkan peningkatan angka bunuh diri terutama pada golongan manula.
Penyebab dan Faktor Resiko
Sampai saat ini mekanisme munculnya depresi sebetulnya belum diketahui secara cukup jelas. Namun dari penelitian lanjutan diketahui bahwa gangguan ini terkait dengan interaksi multifaktor hingga bisa bermanifestasi secara klinis.
Pada seorang penderita depresi, umumnya ditemui gangguan pengaturan sistem hormonal di otak yang dikenal sebagai neurotransmitter. Neurotransmitter yang bermasalah berasal dari kelompok neurotransmitter mono amin yaitu serotonin, dopamin, dan nor epinefrin. Beberapa penyakit klinis juga diketahui dapat memicu munculnya depresi.
Selain itu, umumnya didapatkan adanya riwayat gangguan yang sama dalam keluarga pada pasien penderita depresi. Depresi dapat muncul dengan stresor yang jelas ataupun tidak. Stresor adalah faktor pemicu munculnya gangguan jiwa, umumnya berupa suatu peristiwa yang membekas secara psikologis pada penderita.
Terdapat beberapa faktor yang memperbesar risiko munculnya gangguan depresi mayor pada seseorang, di antaranya berjenis kelamin wanita, kulit putih dan berwarna (orang kulit hitam lebih jarang terkena), wanita yang single atau bercerai.
Usia rata-rata penderita depresi mayor umumnya berkisar antara 20 hingga 50 tahun namun tidak menutup kemungkinan bahwa anak-anak, remaja, dan manula untuk dapat menderita gangguan ini. Pada anak-anak tidak didapati perbedaan yang mencolok antara anak laki-laki dan perempuan yang menderita depresi. Pada manula, keluhan fisik dan gangguan fungsi kognitif lebih menonjol dibandingkan suasana perasaan yang depresif sehingga perlu untuk lebih diwaspadai.
Gambaran Klinis
Kriteria diagnostik klinis gangguan depresi mayor menurut DSM IV-TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, 4th edition, text revision) adalah adanya suatu keadaan mood yang terdepresi baik yang dirasakan sendiri atau yang diamati oleh orang lain dan menghilangnya atau berkurangnya minat dan kesenangan pada hampir semua aktivitas yang dikerjakan.
Kedua kondisi tersebut berlangsung hampir setiap hari selama sekurangnya dua minggu berturut-turut. Kedua kondisi tersebut diikuti dengan sekurangnya 3 dari kondisi berikut yang juga berlangsung selama sekurangnya dua minggu berturut-turut dan nyaris berlangsung tiap hari:
1. Berkurangnya berat badan secara dratis walaupun tidak sedang diet atau bertambahnya berat badan secara signifikan (kenaikan berat badan lebih dari 50% dalam satu bulan) akibat penurunan atau peningkatan nafsu makan.2. Insomnia atau hipersomnia.3. Agitasi atau retardasi psikomotor.4. Merasa lesu atau hilang tenaga.5. Merasa tidak berharga atau adanya rasa bersalah yang berlebihan atau tidak sesuai dengan kondisinya.6. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi dan ketidakmampuan untuk memutuskan sesuatu.7. Adanya pikiran berulang mengenai kematian, atau pikiran berulang mengenai ide-ide bunuh diri tanpa rencana yang spesifik, atau percobaaan bunuh diri, atau rencana bunuh diri yang spesifik.
Gejala-gejala tersebut harus menyebabkan suatu penderitaan atau gangguan fungsi yang signifikan dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang lain yang penting dalam fungsi hidup sehari-hari. Gejala yang muncul juga bukan akibat langsung dari penggunaaan zat (contoh: penggunaan obat dalam jangka waktu lama) atau kondisi medis tertentu (contoh:hipotiroid). Gejala yang muncul juga bukan reaksi yang muncul akibat suatu reaksi berduka akibat kehilangan orang yang dicintai.
Anjuran Penanganan
Saat ini penatalaksanaan yang dilakukan untuk gangguan depresi mayor meliputi penanganan dengan farmakologi (obat-obatan) dan non farmakologi. Penanganan secara farmakologi dilakukan dengan pemberian obat-obat anti depresan sedangkan penanganan secara non farmokologis meliputi pemberian psikoterapi dan ECT. Hasil terbaik umumnya diperoleh dengan terapi kombinasi antara pemberian obat-obatan dengan psikoterapi.
Penanganan terhadap gangguan depresi mayor yang sukses dapat dicapai dengan follow-up yang baik paska meredanya episode akut dari gangguan ini. Gangguan depresi mayor yang tidak diterapi dengan benar memiliki tingkat kemungkinan kekambuhan yang tinggi, sekitar 50-60% kasus dari episode tunggal bisa mengalami pengulangan di masa depan, sekitar 70% yang sudah mengalami kekambuhan ke-2 kali dapat mengalami kekambuhan lagi bila tidak diterapi, dan sekitar 90% yang sudah mengalami kekambuhan ke-3 kalinya dapat mengalami kekambuhan berikutnya. Dapat kita lihat bahwa kemungkinan kekambuhan semakin meningkat seiring dengan semakin seringnya seseorang mengalami gangguan ini.
Seringkali walaupun gejala-gejala sudah mereda, terapi tetap akan dipertahankan selama sekitar 6 bulan sampai dengan 1 tahun untuk mencegah terjadinya kekambuhan gejala. Kekambuhan gejala dapat dicegah hingga 70-80% dengan terapi yang benar. Oleh sebab itu jika Anda atau keluarga Anda mengalami gejala-gejala gangguan depresi mayor, segeralah berkonsultasi dengan psikiater terdekat untuk mendapatkan penanganan yang tepat secepatnya.
gangguan kecemasan 2
gangguan anak kecemasan
Gempa di Padang ini, telah memakan banyak korban dan juga rata-rata rumah disana hancur. Banyak sekali masyarakat di Padang terluka parah dan hampir semuanya tidak ingin dirawat di rumah sakit tapi ditenda, karena mereka mencemaskan diri mereka sendiri apabila terjadi gempa susulan sehingga mereka juga harus waspada. Dan diantara mereka sampai depresi karena kehilangan keluarganya yang belum ditemukan dan ada juga sampai mencari direruntuhan bangunan untuk mencari keluarganya yang mungkin berada di dalam reruntuhan. Dan sampai saat ini masyarakat Padang masih belum bisa melupakan peristiwa yang terjadi itu yang telah merenggut nyawa keluarga mereka. Anak-anak saja sekarang sudah mulai beraktivitas lagi dalam belajar walaupun dilakukannya di tenda tapi mereka masih bersemangat dalam belajar. Menurut guru-guru, mereka masih merasa cemas dan takut, apabila ada mobil atau truk lewat saja mereka langsung keluar dari tenda. Karena saat mobil atau truk jalan, jalanannya menjadi bergetar sehingga anak-anak mengira itu gempa lagi.
gangguan anak pedofilia (di bali)
Bagaimana tidak, karena tujuh tahun lalu kasus yang sama juga pernah terjadi di Bali yang juga melibatkan seorang warga negara asing bernama James asal Amerika Serikat. Si "bule" asal Negeri Paman Sam tersebut saat itu diduga telah "menggarap" puluhan bocah di Pulau Dewata.
Kini kasus pedofilia (pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur sesama jenis -- umumnya laki-laki) terulang kembali. Pelakunya adalah pria "bule" bernama Brown William Stuart alias Tony (52), seorang warga asing berkebangsaan Australia.
Tony yang mantan Diplomat Negeri Kangguru itu, dilaporkan telah melakukan sodomi terhadap IB (14) dan IM (16), dua bocah yang masih duduk di bangku SMP Kota Amlapura, Kabupaten Karangasem, sekitar 78 km arah Timur Denpasar.
Saat mandi bersama di Pantai Jasi, Kelurahan Subagan, Tony diduga menyodomi IB dan IM, setelah sebelumnya memaksa kedua bocah tersebut melakukan onani
Akibat perbuatannya itu, Tony kini harus mempertanggungjawabkannya di meja hijau Pengadilan Negeri Amlapura, Karangasem.
Kasus yang cukup menghebohkan itu, tidak saja menjadi sorotan media lokal maupun nasional, tetapi juga diekpos secara besar-besaran oleh media massa Australia.
Bahkan terkait kasus ini, pihak Pemerintah Australia telah menempatkan seorang perwira polisi di Bali untuk membantu menindak tegas peningkatan jumlah wisatawan yang datang untuk memperoleh seks dengan anak-anak di bawah umur.
Menanggapi kasus pedofilia yang melibatkan warga asing di Bali, psikiater Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani mengatakan, fedofilia sudah lama dikenal masyarakat di luar negeri. Namun, beberapa tahun belakangan kasus serupa juga dikenal di Indonesia, menyusul terjadinya kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak kecil sesama jenis.
Di Bali khususnya, tidak kurang dari 200 anak usia antara lima sampai 13 tahun, telah menjadi korban nafsu seksual para pedofil yang umumnya berkedok pelancong dari sejumlah negara.
Anak-anak 'ingusan', terjebak dalam keganasan si 'bule' yang memiliki kelaian seksual tersebut, setelah terlebih dahulu mereka dibujuk rayu bahkan diiming-imingi uang dan hadiah lainnya.
Dalam satu kesempatan diskusi tentang pedofilia yang dihadiri sekitar 30 LSM dan perwakilan dari sejumlah kantor konsulat asing yang ada di Bali, terungkap bahwa lokasi para korban pedofilia, antara lain di kawasan Pantai Lovina Buleleng, Karangasem, Ubud, dan Bangli.
Dalam diskusi tersebut para peserta yang hadir sepakat mendeklarasikan 'perang' terhadap pelaku pedofilia. Bahkan, Suryani yang pentolan "Committee Against Sexual Abuse/CASA", menyatakan, semua pihak harus 'perang' terhadap pelaku seksual yang dapat menghancurkan masa depan anak-anak itu.
Betapa tidak hancur, ujar guru besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (Unud) itu, mengingat tidak sedikit korban yang mengalami aksi pedofilia kemudian mengalami depresi berat.
Sebagai contoh, lanjut Suryani, delapan anak korban aksi pedofil asal Italia, yang pernah dia rehabilitasi, rata-rata mengalami gangguan jiwa cukup berat.
"Mereka sering berteriak-teriak ketakutan tanpa sebab-sebab yang jelas. Ini akibat 'racun' pedofilia yang telah merasuk pada jiwa mereka," ucapnya,
Hukuman ringan
Lebih jauh dijelaskan, pedofelia awalnya dikenal setelah terjadi beberapakali kasus pelecehan seksual yang dilakukan seorang warga negara asing terhadap seorang bocah di Kuta, menyusul kasus yang sama yang dilakukan turis asal Italia terhadap seorang anak di bawah umur di Lovina, Kabupaten Buleleng.
Menurut Suryani, para korban keganasan pedofilia umumnya akan terserang gangguan secara kejiwaan dalam waktu yang cukup lama.
Sehubungan dengan itu, seluruh komponen masyarakat, terutama aparat penegak hukum, supaya menyikapi persoalan ini secara sungguh-sungguh. Artinya, ada upaya untuk memberantas para pelaku aksi kejahatan seksual tersebut sampai ke akar-akarnya.
"Kenapa masih ada pedofil yang berkeliaran bebas dan siap mencari sasaran ke tempat lain (tidak jera)? Karena, sanksi hukum terhadap pedofil di negara ini relatif ringan. Berbeda dengan di luar negeri, seperti Australia hukuman terhadap pedofile sangat berat -- hukuman kurungan badan bisa mencapai 15-20 tahun," katanya.
Pada bagian lain, Suryani menyarankan agar Pemerintah Indonesia melalui konsul-konsulnya yang ada di luar negeri menggalang satu kerjasama tukar-menukar informasi dengan negara lain, terkait penanggulangan pedofilia. Dan terhadap warga asing yang melakukan pedofilia agar dideportasikan setelah sebelumnya diproses secara hukum.
Direktur Reserse Kriminal Polda Bali, Kombes Boy Salamuddin dalam sebuah lokakarya mengenai "Fenomena Paedofile dan Upaya Penanggulangannya" di Denpasar belum lama ini, mengakui ada tujuh daerah yang telah menjadi pergerakan paedofil, yaitu Gerokgak, Lovina, Air Sanih, Sasri, Kuwum (Kabupaten Buleleng), Kubu dan Candi Dasa (Kabupaten Karangasem).
Sementara itu, hasil penelitian yang pernah dilakukan pihak Yayasan Anak Indonesia (YAI) mengungkapkan bahwa aksi kejahatan pedofilia sebetulnya telah berlangsung selama dua generasi di Bali. Sedang para pelaku dari aksi itu, diperkirakan telah mencapai ratusan, namun belakangan yang masih berkeliaran di Bali sebanyak 13 orang.
Pihak YAI sudah menyerahkan data tentang pelaku sebanyak itu kepada polisi, namun hingga kini pelakunya belum semuanya berhasil ditangkap atau diambil tindakan.
Salah satu pedofil yang berhasil diringkus petugas, adalah Mario Mannara (57), turis asal Roma, Italia. Namun disayangkan, Mario hanya dijatuhi hukuman empat bulan penjara, dan kini telah kembali berkeliaran sekaligus tidak diketahui rimbanya.
Dengan demikian, jadilah "Hantu" pedofilia kini terus bergentayangan mencari mangsa dan sekaligus mengusik ketenangan bocah-bocah di Pulau Dewata.
gangguan anak antisosial
Nyatanya tidak hanya penderitanya saja yang bertambah, kini varian autisme juga semakin banyak diketahui. Sindrom asperger merupakan salah satu varian autisme yang lebih ringan dibandingkan kasus autisme klasik.
Gangguan Asperger berasal dari nama Hans Asperger, seorang dokter spesialis anak asal kota Wina, Austria. Pada tahun 1940, Asperger ialah orang pertama yang menggambarkan pola perilaku khusus pada pasien-pasiennya, terutama pasien laki-laki.
Asperger memperhatikan, meskipun anak laki-laki tersebut memiliki tingkat intelegensia yang normal serta kemampuan bahasa yang baik, namun mereka memiliki kekurangan dalam kemampuan bersosialisasi. Umumnya mereka tidak mampu berkomunikasi secara efektif serta kemampuan koordinasi yang kurang baik.
Sindrom asperger banyak disebut sebagai varian dari autisme yang lebih ringan. Para ahli mengatakan, pada penderita sindrom asperger memiliki kondisi struktural otak secara keseluruhan lebih baik dibandingkan pada penderita autisme.
Menurut Clinical Assistant Professor of Pediatrics Jefferson Medical College Philadelphia, Susan B. Stine, MD karakter dari anak-anak yang mengalami sindrom asperger ialah kurangnya kemampuan berinteraksi sosial, pola bicara yang tidak biasa dan tingkah laku khusus lainnya.
Kemudian, anak-anak dengan sindrom asperger biasanya sangat sulit untuk menampilkan ekspresi di wajahnya serta sulit untuk membaca bahasa tubuh pada orang lain.
“Mereka kemungkinan juga merasa nyaman dengan rutinitas tertentu yang harus dilakukan setiap hari serta sensitif terhadap stimulasi sensori tertentu, misalnya mereka akan tertanggu oleh nyala lampu redup yang mungkin tidak diperhatikan oleh orang lain. Bisa saja mereka menutup kuping agar tidak dapat mendengarkan suara di sekitarnya atau mereka mungkin lebih memilih pakaian dari bahan-bahan tertentu saja,” jelas Stine.
Selain itu, tambah Stine, ciri dari anak yang mengalami sindrom asperger adalah terlambatnya kemampuan motorik, ceroboh, minat yang terbatas dan perhatian berlebihan terhadap kegiatan tertentu.
Hal senada diungkapkan oleh dokter spesialis anak konsultan Neurologi, dr Hardiono D Pusponegoro, Sp.A(K). Dia memaparkan, sindroma asperger adalah gangguan perkembangan dengan gejala berupa gangguan dalam bersosialisasi, sulit menerima perubahan, suka melakukan hal yang sama berulang-ulang, serta terobsesi dan sibuk sendiri dengan aktivitas yang menarik perhatian.
“Umumnya, tingkat kecerdasan si kecil baik atau bahkan lebih tinggi dari anak normal. Selain itu, biasanya ia tidak mengalami keterlambatan bicara,” kata Hardiono.
Jika dilihat secara sekilas, lanjutnya, anak tersebut tidak berbeda dengan anak yang pintar dan kreatif. Hanya saja, anak tersebut biasanya memiliki satu minat tertentu saja untuk dikerjakannya.
Memang secara keseluruhan anak-anak yang mengalami gangguan sindrom asperger mampu melakukan kegiatan sehari-hari, namun terlihat sebagai pribadi yang kurang bersosialisasi sehingga sering dinilai sebagai pribadi eksentrik oleh orang lain.
Menurut Stine, jika penderita sindrom asperger beranjak dewasa, biasanya mereka akan merasa kesulitan untuk mengungkapkan empati kepada orang lain serta tetap kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain.
“Pada ahli mengatakan bahwa penderita sindrom asperger biasanya akan menetap seumur hidup. Namun, gejala tersebut dapat dikurangi dan diperbaiki dalam kurun waktu tertentu terutama deteksi dini sindrom asperger akan sangat membantu,” pungkasnya.
Gangguan sindrom asperger pada umumnya akan terus mengikuti perkembangan usia seseorang. Meski tidak membahayakan jiwa, namun gangguan itu bisa membuat anak takut berada di keramaian dan membuat anak depresi.
Ciri yang menonjol pada anak asperger adalah mereka tidak bisa membaca kode-kode atau ekspresi wajah seseorang. Karena ketidakmampuannya itu, anak asperger dijauhi teman-temannya.
“Biasanya mereka jadi anak yang antisosial, sulit berinteraksi dengan orang lain,” kata Hardiono.
Ketika anak asperger tidak mempunyai teman, lalu tidak tahu harus bersikap bagaimana untuk menghadapi sebuah situasi, dia akan merasa putus asa dan akhirnya depresi.
Sesuai dengan perkembangan otak, kalau kelainan itu diketahui lebih dini, maka bisa distimulasi atau diberi obat agar berkembang ke arah yang baik.
Namun, kalau sudah terlambat deteksinya, yaitu sudah berusia lima atau enam tahun, maka sulit penanganannya karena perkembangan otak sudah berhenti. Pada umur lima tahun, bagian otak yang disebut sinaps-sambungan antar saraf di mana bahan kimia serotonin bekerja-akan berhenti.
Kini teknik-teknik terapi sudah jauh lebih maju dan fasilitas sudah banyak. Hardiono menuturkan, salah satu terapi yang bisa dilakukan adalah dengan mengajak si anak bermain. Stimulasi ini diketahui memperbaiki sinaps dan meningkatkan kadar serotonin.
Menurut Hardiono, anak asperger masih bisa diterapi, terutama dalam hal kemampuan bersosialisasi. Pasalnya, kemampuan mereka bersosialisasi sangat kurang.
“Cara terapi yang paling baik adalah mengajarkan anak bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Terapi dalam bentuk peer group akan lebih baik lagi,” paparnya.
Anak asperger biasanya memiliki kecerdasan yang tinggi, maka orangtua akan dengan mudah mengajarkan emosi sosial. Misalnya, mengajarkan bagaimana harus bersikap jika menghadapi situasi tertentu.
R. Kaan Ozbayrak,MD, Assistant Professor of Psychiatry University of Massachusetts Medical School menambahkan, beberapa hal lain yang dapat dilakukan untuk membantu anak-anak penderita sindrom asperger. Terapi atau pengobatan yang dilakukan juga harus disesuaikan.
Secara umum Ozbayrak mengatakan, anak-anak penderita sindrom asperger akan banyak terbantu oleh orangtua yang memahami dan mampu membantunya. Kemudian, mereka juga membutuhkan pendidikan yang diperuntukan khusus bagi kebutuhannya. Selain itu, anak memerlukan latihan kemampuan untuk bersosialisasi serta terapi wicara.
“Terapi sensori integrasi juga dapat berguna bagi anak-anak yang masih kecil untuk meminimalisir kondisinya yang terlalu sensitif. Sementara itu, untuk anak-anak yang lebih tua dapat mendapatkan terapi kognitif atau psikoterapi,” papar Ozbayrak.
anak yang menolak bersekolah...
Dalam perjalanannya, proses tumbuh kembang anak adalah prosesdinamis, yang dipengaruhi oleh faktor konstitusional, maturasional danjuga lingkungan. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dalammenentukan karakter dan potensi anak di kemudian hari.
Penolakanbersekolah dengan latar belakang kecemasan pada anak merupakan salahsatu contoh kasus yang berkaitan dengan proses di atas. Walaupun belumada angka prevalensi yang pasti di Indonesia, akhir-akhir ini kasuspenolakan bersekolah sebagai dampak dari berbagai gangguan jiwa(terutama gangguan cemas) cenderung sering dijumpai.
Studi kepustakaan di luar negeri diperoleh angka prevalensi penolakan bersekolah sekitar 5 persen, angka tertinggi dijumpai pada rentang usia 5-6 tahun dan 10-11 tahun. Tidak ada perbedaan jender pada angka tersebut.
Anak menolak bersekolah, sudah pasti membuat orangtua dan guru menjadi khawatir, karena bagaimanapun bersekolah merupakan tanggung jawab anak. Selain menuntut ilmu, dengan bersekolah anak juga belajar bersosialisasi dengan lingkungan.
Kearney dan Silverman (1996) mendefinisikan perilaku penolakan sekolah sebagai suatu motivasi anak untuk tidak hadir di sekolah atau tidak mau tinggal dalam kelas mengikuti semua pelajaran pada hari itu. Dengan demikian, anak ingin cepat-cepat pulang meninggalkan kelas. Anak mungkin mencari berbagai alasan seperti berbagai jenis keluhan somatik.
Penolakan sekolah bukan merupakan suatu diagnosis klinis melainkan suatu gejala klinis dari berbagai gangguan jiwa tertentu misalnya gangguan cemas (sebagian besar), depresi, dan gangguan belajar.
Gangguan cemas
Merupakan gangguan yang paling banyak dialami anak yang tidak mau bersekolah. Last dan Strauss (1990) menyatakan bahwa 43,4 persen kasus penolakan bersekolah dilatar belakangi rasa cemas. Sementara Bernstein (1990) melaporkan 60-80 persen kasus penolakan disebabkan oleh kecemasan perpisahan, diikuti gangguan cemas lainnya, antara lain; gangguan cemas menyeluruh, fobia sosial, fobia spesifik, gangguan panik, dan gangguan stres pascatrauma.
Gangguan cemas perpisahan. Merupakan suatu gangguan yang ditandai oleh adanya kecemasan berpisah dengan seseorang yang lekat dan dekat dengannya.
Gangguan cemas menyeluruh. Ditandai dengan adanya preokupasi akan masa depan atau kejadian-kejadian di masa lalu sehingga menimbulkan kecemasan pada diri anak yang prominen.
Gangguan panik. Anak akan menunjukkan adanya suatu serangan kecemasan yang hebat yang timbulnya spontan yang akan memebuat anak menjadi waswas akan timbulnya serangan serupa di masa mendatang. Akibatnya, anak tidak mau keluar rumah tanpa ditemani oleh orangtua.
Penyebab dari kasus penolakan bersekolah dikelompokkan menjadi 3:
Faktor dari dalam diri anak
Anak mengalami distress emosional tertentu seperti kecemasan, depresi atau kesulitan berhubungan dengan lingkungan, serta kesulitan belajar.
Anak memiliki temperamen sulit (difficult temperament) dan pemalu (slow to warm up temperament) lebih banyak menolak bersekolah dibanding dengan anak yang bertemperamen mudah (easy temperament).
Faktor yang berasal dari orangtua, terutama berkaitan dengan interaksi anak-orangtua.
Anak dengan temperamen sulit dan pemalu seringkali memiliki interaksi buruk dengan orangtuanya sehingga memicu kecemasan anak.
Anak yang memiliki orangtua dengan gangguan jiwa (depresi, panik) meningkatkan gangguann cemas pada anak.
Pola asuh yang terlalu protektif atau terlalu mengontrol juga meningkatkan risiko gangguan cemas anak.
Faktor lingkungan sekolah.
Hubungan yang tidak serasi antara anak dengan teman-teman sekolahnya.
Kemampuan intelek anak yang tidak sesuai dengan tuntutan sekolah.
Pengalaman gagal dalam pendidikan
Pendekatan yang dapat dilakukan
Berdasarkan petunjuk American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP, 1997) tatalaksana kasus penolakan bersekolah dengan latar belakang kecemasan adalah dengan pendekatan multimodal, dengan menggabungkan terapi kognitif dan terapi obat antidepresan.
